Cara Mengirimkan Naskah Buku ke Penerbit Mayor


Ada beberapa hal yang sepertinya harus saya luruskan sebelum kita ngobrol tentang menerbitkan buku. Pertama, bahwa penulis baru disebut penulis jika sudah menerbitkan buku. Faktanya, seseorang bisa disebut penulis jika dia memang menulis, di mana pun medianya. Entah itu catatan Facebook atau blog. Kedua, kalau bisa menembus penerbit mayor sudah tentu tulisannya bagus. Faktanya, banyak buku-buku yang sebetulnya belum layak baca diterbitkan oleh penerbit mayor. Alasannya sederhana: kebijakan redaksional dan selera pasar. Ketiga, menerbitkan buku di penerbit mayor lebih "mulia" daripada indie. Well, perbedaan indie dan mayor hanyalah di sistem distribusi dan kurasi. Yang selama ini merusak citra penerbit indie sebetulnya karena berjamurannya fasilitas self publishing sehingga setiap orang merasa mampu menerbitkan buku, sesampah apa pun kualitas karyanya, asalkan dia mampu membayar biaya penerbitan dan percetakan.

Setiap orang memiliki motivasi sendiri ketika mengirimkan naskah ke penerbit mayor. Ada yang karena karyanya sudah layak dikonsumsi masyarakat umum, ada yang karena diminta oleh penerbit, ada yang ingin mendokumentasikan pemikirannya, dan sebagainya. 

Apa pun motivasi Anda, berikut langkah-langkah mengirimkan karya ke penerbit mayor:

1. Pilih Penerbit

Anda akan, sedang, atau sudah menulis naskah apa? Fiksi, nonfiksi? Ingin mengirimkan ke penerbit? Pastikan Anda sudah tahu akan dikirim ke mana. Kenapa ini saya simpan di poin pertama? Agar para penerbit tidak lagi menerima pertanyaan seperti, "Kalau naskah islami boleh, enggak?" tapi nanyanya ke Gagas Media. Cuy, naskah islami itu ke Mizan, Republika, Tiga Serangkai. Kalau ketika menulis diperlukan riset, begitu juga ketika menentukan penerbit yang tepat. 

Satu hal lagi, sebelum mencari penerbit, Anda sudah harus tahu kategori, genre, dan target pembaca naskah Anda. Jangan sampai ada kebingungan semacam, "Aku udah selesai nulis novel, tapi aku enggak tahu ini genrenya apa. Mungkin roman, mungkin thriller, mungkin fiksi fantasi. Teteh mau baca dulu dan kasih tahu aku genrenya, enggak?"

Jawabannya: enggak. Kalau si penulis sendiri tidak tahu genre dan target pembaca tulisannya, ngapain orang lain harus repot-repot menganalisis? Menentukan target pembaca itu penting agar Anda sebagai penulis tahu apa saja yang pantas dan tidak pantas ditulis. Juga sebagai tanggung jawab moral. Misalnya, Anda menulis tentang kisah cinta dengan tokoh remaja, tapi ada adegan ciuman bibir bahkan adegan ML. Bisa jadi itu fakta di lapangan, tapi ketika dimasukkan ke dalam sebuah novel, Anda tetap bertanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan.

Selain itu, mengetahui target pembaca bertujuan agar karya Anda sampai kepada pembaca yang tepat dan memicu semacam keterlibatan. Misalnya, Anda membuat novel dengan target pembaca young adult, tapi konfliknya ada poligami segala. Tahu apa sih mereka soal poligami? Yang ada malah bisa membuat pembaca trauma lantas tidak mau menikah lantas manusia menuju punah. (Naon sih, Chan?)

Target Pembaca:

Prinsipnya, buku dengan target pembaca A bisa dibaca oleh pembaca berusia di atasnya, tapi target pembaca A tidak bisa atau kurang tepat jika dibaca oleh pembaca berusia di bawahnya. Misalnya, anak SMP tapi baca Saman. Boleh sih, tapi gimana gitu, ya. Ada juga buku yang bisa dibaca oleh semua usia. Contoh, Harry Potter dan Tetralogi Laskar Pelangi.

  • Anak-anak 1 ► untuk anak usia 0-5 tahun. Contoh: dongeng atau cerita bergambar.
  • Anak-anak 2 ► untuk anak usia 6-12 tahun. Contoh: Toto Chan.
  • Remaja 1 ► remaja usia 12-15 tahun. Contoh: buku-buku KKPK-nya Mizan.
  • Remaja 2 ► remaja usia 15-18 tahun. Contoh: teenlit.
  • Dewasa muda ► 18-25 tahun. Contoh: chicklit, metropop, roman-nya Gagas Media.
  • Dewasa ► 25-n tahun. Contoh: buku-bukunya Djenar dan Ayu Utami, seri Amore-nya Gramedia.

How to:

  • Tentukan penerbit yang tepat untuk naskah Anda. Misalnya, Anda menulis nonfiksi komedi. Maka penerbit yang tepat adalah Gradien Mediatama dan Bukune. Anda menulis novel "konon" sastra, bisa dikirimkan ke GPU atau KPG. Tidak tahu naskah Anda mau dikirim ke mana? Cari atuh, browsing ke situs web penerbitnya. Di sana ada ketentuan jenis naskah apa yang mereka terima, kok.
  • Pilih dua atau tiga alternatif lain in case naskah Anda ditolak oleh penerbit pertama. 
  • Bisa juga dengan jalan-jalan ke toko buku, cari buku yang sekiranya satu genre dengan naskah Anda. Beli dan baca untuk mengetahui naskah seperti apa yang mereka terima. 

Ketentuan Penerimaan Naskah:

2. Siapkan Naskah Jadi

Jika Anda sudah tahu mau mengirim ke penerbit mana, siapkan naskah sesuai ketentuan penerbit. Misalnya, Gagas Media menerima naskah 75-150 halaman A4 spasi 1, jadi jangan sampai naskah Anda kurang atau lebih dari itu.


Format Standar Naskah:

Ini format standar yang sering dipakai oleh banyak penerbit dengan pengecualian beberapa penerbit yang sudah menetapkan persyaratan tersendiri.
  • Panjang naskah: minimal 100 halaman A4.
  • Jenis huruf: Times New Roman 12 pt.
  • Spasi: 1.5.

FAQ:

  • Bolehkah memakai jenis huruf lain? ► Sesuaikan dengan jenis huruf yang diminta penerbit, jika penerbit tidak menyebutkan jenis huruf, tetap gunakan TNR 12.
  • Boleh menggunakan spasi 1 atau 2? ► Sesuaikan dengan spasi yang diminta penerbit, jika penerbit tidak menyebutkan, gunakan 1.5 spasi.
  • Bolehkah menggunakan jenis huruf variatif? ► Untuk judul dan subjudul atau bab baru, boleh. Maksimal 18 pt untuk judul dan maksimal 16 pt untuk subudul.
  • Bolehkah memakai ukuran kertas berbeda? ► Ini juga sama, sesuaikan dengan yang diminta penerbit. Jika tidak ada keterangan, gunakan A4, jangan kuarto, jangan folio, apalagi A5. 

3. Kirim Naskah

So, Anda sudah berhasil menggubah sebuah naskah buku. Saya ucapkan selamat. Langkah berikutnya yang harus Anda lakukan adalah mengirimkannya ke penerbit kecengan. Tapi sebelumnya, ada beberapa kelengkapan yang harus dipersiapkan.

Kelengkapan Naskah:

  • Sinopsis. Sinopsis inilah yang pertama kali akan dibaca oleh penerbit, yang akan menentukan apakah naskah Anda akan dibaca dan diterbitkan atau tidak. Harap diingat bahwa sinopsis berbeda dengan blurb di belakang buku. 
  • Biodata penulis. Buat biodata lengkap dan menarik, boleh dilengkapi foto dan profil singkat Anda. FYI, usahakan agar panjang biodata hanya 1 halaman A4. 
  • Formulir jika diminta.
  • Naskah lengkap. Untuk naskah print out, jilid naskah buku dengan rapi, jangan lupa sertakan nomor halaman dan header berupa judul dan nama Anda. Jika dikirim via email, kirim naskah dalam bentuk Ms. Word. 

Setiap penerbit memiliki kebijakan sendiri dalam hal penerimaan naskah, ada yang meminta print out, ada juga yang lebih suka menerima naskah softcopy. Patuhi itu, enggak usah banyak nego. 

FAQ

  • Apakah saya perlu menyertakan foto dan ilustrasi di dalam naskah? ► Jika itu berhubungan atau bersifat melengkapi naskah, masukkan langsung dalam file. Kalau naskah Anda diterima, penerbit akan meminta file foto dan ilustrasinya.
  • Bolehkah menyertakan prestasi di dalam biodata? ► Hanya jika prestai itu relevan dengan naskah. Misalnya, Anda mengirimkan novel, maka juara 1 lomba memasak tidak usah disertakan. 
  • Bolehkah mengirimkan biodata lebih dari 1 halaman? ► Memangnya sepanjang apa sih profil Anda? Tolong bedakan antara biodata dengan autobiografi. Thanks.
  • Bolehkah mengirimkan naskah berupa file PDF? ► Jika diminta oleh penerbit ya silakan, jika tidak tetap kirimkan dalam bentuk Word. Takut diplagiat atau diapa-apakan? Diterbitkan aja belum tentu, kok. Boro-boro diplagiat. #eh
  • Bolehkah mengirimkan hanya outline? ► Beberapa penerbit seperti Stiletto dan Grasindo menerima outline, tapi pastikan naskah Anda memang sudah selesai.
  • Bolehkah mengirimkan naskah yang sama ke dua penerbit sekaligus? ► Tidak.
  • Berapa lama masa tunggu naskah? ► Biasanya 3 bulan. Jadi yang sabar, ya. Please jangan baru seminggu kirim sudah minta keputusan. Kasih mereka waktu untuk memikirkan. 
  • Apa yang harus dilakukan setelah mengirimkan naskah? ► Tunggu, lalu menulis yang lain.

4. Setelah Pengiriman

Selamat, Anda sudah berhasil mengirimkan naskah ke penerbit. Lalu, apa yang terjadi jika Anda sudah berhasil mengirimkan naskah ke penerbit? Ada beberapa kemungkinan:
  • Diterima dan diterbitkan.
  • Ditolak. Naskah print out tidak dikembalikan.
  • Diterima dengan revisi. 
  • Naskah Anda ditolak tapi Anda diminta menulis naskah lain.

FAQ

  • Apa yang terjadi jika naskah saya diterima? ► Anda akan dikirimi surat kontrak penerbitan.
  • Berapa lama buku akan diterbitkan? ► Bervariasi, tergantung jadwal terbit masing-masing penerbit. 
  • Apakah saya perlu membayar? ► Tidak. Kecuali ada ketentuan lain dari penerbit.
  • Bagaimana kalau naskah saya ditolak? ► Revisi dan kirimkan ke penerbit lain. 
  • Berapa banyak buku saya akan dicetak? ► 3 ribu eksemplar sekali cetak. 
  • Apakah saya akan diberi bukti terbit? ► Iya, jumlah bukti terbit tergantung pada masing-masing penerbit. Biasanya sih minimal 3 eksemplar.
  • Bagaimana sistem pembayaran naskah? ==> Sistem royalti atau jual putus. Royalti dikirim 6 bulan sekali. Jual putus artinya Anda akan dibayar langsung di muka dan tidak akan mendapatkan royalti SELAMANYA kecuali ada revisi kontrak. Jadi kalau sekiranya buku Anda akan best seller, lebih baik minta sistem royalti. 

5. Setelah Terbit

Hubungan antara penulis dengan karyanya tidak berhenti ketika naskah itu diterbitkan dan jadi buku. Anda tetap harus membantu penerbit dalam mempromosikan buku Anda sendiri. "Ah, tapi kan penerbit sudah punya tim marketing sendiri. Lagian kemarin naskahnya jual putus, kok. Walau promosi pun, aku enggak akan dapet royalti." 

FYI aja, sih. Penulis yang rajin promosi dan membantu penerbit meningkatkan penjualan adalah penulis yang sangat disayang. Kalau penerbit sudah sayang, mudah bagi Anda untuk menerbitkan buku berikutnya. 

Lagi pula, penulis sekaliber Dee Lestari aja promonya gencar-gencaran, lho. Itu Dee, yang sekali batuk doang dapet puluhan juta dari royalti buku. Situ sapa? #eh

Contoh Promosi:

  • Kirimkan satu eksemplar kepada pembaca supaya diresensi. 
  • Bikin kuis berhadiah buku. 
  • Pasang PP sampul buku terbaru Anda. 
  • Cek di Goodreads, buku Anda sudah masuk daftar atau belum? Kalau belum, inisiatif dong, masukkan buku Anda ke database Goodreads.
  • Kalau ada teman yang minta buku gratisan, suruh ngomong sama tembok.
..

Ada dua  pertanyaan lagi yang sering diajukan oleh mereka yang ingin menerbitkan buku. Pertama, bagaimana caranya menulis buku? Kedua, bagaimana caranya agar naskah kita diterbitkan?

Untuk pertanyaan pertama, sepertinya perlu dibuat postingan tersendiri, deh. Jawaban dari pertanyaan kedua adalah:
  • Tulisan Anda bagus, setidaknya memenuhi standar kualitas penerbit yang Anda kirimi naskah.
  • Memenuhi persyaratan teknis. 
  • Dikirim ke penerbit yang tepat. 
Well, setiap naskah akan bertemu dengan takdirnya sendiri. Jangan putus asa hanya karena satu dua kali penolakan. Lha wong ditolak gebetan aja kuat, kok. Masa ditolak penerbit langsung putus asa?

Ada satu kali lagi nasihat untuk Anda, jangan sia-siakan kesempatan. Belajarlah dari pengalaman saya. Beberapa tahun lalu, ada tiga penerbit mayor yang cukup besar meminta saya menulis novel. Ini penerbitnya sendiri, lho, yang datang mengetuk pintu hati. *halah 

Yang dua sudah saya kirimi outline dan mereka setuju untuk menerbitkan. Tapi ketika mereka meminta naskah utuh, yang saya lakukan hanya "iya besok, iya besok" tapi tidak pernah diselesaikan. Yang satu saya tolak dengan alasan belum ada waktu untuk menulis novel. Kurang ajar banget, kan, saya? Dan kesempatan sebagus itu tidak datang lagi sampai sekarang. Walau memang, sih, saya masih malas menulis novel. Jenis buku lain mungkin bisa, tapi novel masih belum ada tenaga.

Demikian ngobrol-ngobrol kita kali ini, semoga tulisan ini membantu Anda mengumpulkan semangat untuk jadi penulis buku. Kalau ada yang ingin menambahkan, sangat dipersilakan. Kalau ada yang ingin bertanya, akan saya jawab sebisa mungkin. 

Salam,
~eL


Mau tip-tip menulis lainnya?


5 comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Sarannya bagus buat saya, selama ini masih bingung naskah yang udah jadi mau diapakan, hehehe. Trimakasih.

    ReplyDelete
  3. Chan, punya tutorial batuk ala Dee nggak. Aku mau dong....sekali batuk dapat duit jutaan :D Daripada capek nunggu royalti kan? Mumpung aku lagi batuk nih.

    ReplyDelete
  4. Bagi bunda memilih Self Publishing semata-mata karena ingin mendokumentasikan hasil pemikirann bunda yang bunda tumpahkan sebagai postingan. Itupun postingan pilihan (pilihan bunda) seperti buku bunda Me n My Life, Bunga Rampai Kehidupanku. Selebihnya ada juga kumcer yang sampai sekarang belum mendapat tempat di hati Penerbitt Mayor. Pengiriman pertama kali ditolak, Pengiriman kedua ke Penerbit lain, masih menunggu. Kalau ditolak juga, terpaksa bunda menerbitkannya sebagai Seld Publishing. Ya, untuk kenangan buat anak cucu.

    ReplyDelete

Weekly Newsletter