Kreatif Bersama Serempak; Literasi Digital Generasi Milenial



Dunia kepenulisan adalah basis dan pintu masuk ilmu pengetahuan sekaligus saksi sejarah dan perkembangan kebudayaan. Aksara dan kata-kata menjadi penanda evolusi manusia. Saking pentingnya kepenulisan, kebudayaan manusia dibedakan ke dalam dua zaman: zaman prasejarah ketika manusia belum mengenal tulisan dan zaman sejarah saat manusia mulai mengenal dan menggunakan tulisan.

Seperti kita ketahui, teknologi informasi adalah bagian dari perkembangan dunia kepenulisan dan kebudayaan itu sendiri. Hari ini, informasi tidak lagi hanya berbentuk buku, majalah, koran, dan media fisik lainnya. Informasi sudah dikemas ke dalam bentuk digital yang lebih ringkas dan yang paling penting: lebih mudah diakses.


Namun, sebagaimana perkembangan zaman lainnya, dunia kepenulisan digital juga membawa dua dampak: baik dan buruk. Saya kira kekhawatiran inilah yang membuat Serempak berinisiatif untuk mengadakan talkshow bertajuk "Kreatif Bersama Serempak: Literasi Digital Generasi Millenial".

ROADSHOW SEREMPAK 2017-BANDUNG

Talkshow yang dihelat pada hari Kamis, 20 Juli 2017, di Aula Masjid Mujahidin Muhammadiyah Bandung ini bukan talkshow pertama dan satu-satunya. Serempak sebagai portal interaktif yang mengkhususkan diri pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak telah beberapa kali mengadakan talkshow serupa, diadakan di berbagai kota dan dengan tema yang berbeda.


Sesuai tema yang diusung, talkshow diisi oleh empat orang narasumber: Kak Martha Simanjuntak sebagai founder IWITA, Ibu Yulis dari Kemkominfo, Teh Indari Mastuti founder IIDN, dan Ibu Andalusia Neneng Permatasari dosen FIKOM Unpad.

AKSES KOMUNIKASI UNTUK SELURUH NEGERI

Ibu Yulis dari Kemkominfo menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia melalui BP3TI (Balai Penyedia & Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika) siap memberikan pelayanan terbaik agar seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan akses telekomunikasi. Ini dibuktikan dengan tiga program, salah satunya pembangunan infrastruktur berupa BTS, peluncuran satelit, dan palapa ring.

Ibu Yulis dari BP3TI Kemkominfo

Dengan pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia pelosok Indonesia, diharapkan masyarakat tidak lagi kesulitan dalam hal akses komunikasi. Pun dengan akses internet. Kelak, setelah palapa ring efektif dipergunakan, tidak akan ada lagi internet mahal dan lambat meskipun tidak memakai fiber optik.

Dalam sesi tanya jawab saya mengajukan pertanyaan tentang peringatan Menteri Rudiantara kepada platform media sosial yang tidak mendukung usaha pemerintah dalam hal penanganan penyebaran paham-paham radikal. Yang saya tanyakan adalah apa pemerintah Indonesia betul-betul serius akan menutup semua media sosial seperti yang dilakukan China? Jika iya, siapkah pemerintah kita memberikan opsi pengganti? Karena walau bagaimanapun media sosial sedikit banyak membantu pertumbuhan ekonomi, bukan hanya tempat belajar merakit bom.

Ya, daripada saya berspekulasi, lebih baik saya tanyakan kepada orang Kemkoninfo langsung, kan. Menurut Ibu Yulis, itu hanya peringatan. Peringatan yang serius, maksudnya. Pemerintah Indonesia sendiri tidak segan-segan menutup platform media sosial, meski sayangnya, belum menyiapkan alternatif lain.

BOLEH GO DIGITAL, TAPI JANGAN LUPA SEKITAR

Teh Indari Mastuti, founder IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) dan founder komunitas lainnya, menunjukkan dengan tepat kepada kami bagaimana menggunakan media sosial dengan "benar". Menurut Teh Iin, begitu beliau biasa disapa, media sosial membuka banyak sekali kesempatan. Entah itu untuk belajar, bisnis, menyebarkan informasi, silaturahmi, dan masih banyak lagi. Kuncinya, segala sesuatunya tergantung kepada kita, si pengguna.

Teh Indari Mastuti

Ada hal lain yang lebih menarik menurut saya. Saya familiar dengan IIDN dan jaringannya yang luas. Selama ini saya hanya tahu bahwa "karier" Teh Iin dan anggota komunitasnya berpusar di internet, ternyata tidak. Selain aktif di media sosial, Teh Iin juga aktif di lingkungannya, memberdayakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya agar kembali mandiri secara ekonomi. Hal lainnya, Teh Iin berkolaborasi dengan putrinya, Nanit (9 tahun), membuat sekolah nonformal yang memberikan edukasi kepada anak-anak sekitar.

Ini juga mengingatkan kepada kita bahwa hidup bukan hanya tentang dunia di dalam layar smartphone atau laptop. Ada dunia yang setiap saat bersinggungan dengan keseharian kita, dunia yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Jika kita bisa bermanfaat di dunia maya, kenapa tidak bisa bermanfaat juga di dunia nyata?

INTERNET, DULU DAN SEKARANG

Ibu Yohanna, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Setelah rangkaian talkshow dan tanya jawab selesai, acara ditutup dengan sambutan, salah satunya dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Yohana Susana Yembise. To be honest, saya yang duduk di bangku kedua dari depan dan membawa Aksa sempat salah tingkah juga. Takutnya Aksa memutuskan untuk berlari-lari di panggung seperti di acara-acara sebelumnya. Syukurlah Aksa sedang manis-manisnya, doi cuma toal-toel punggung Bu Menteri yang membuat saya nyaris pingsan. Hahaha.

Bu Yohanna menceritakan bagaimana dulu beliau sulit mendapatkan akses informasi karena tinggal di Papua, termasuk sulit mendapatkan buku-buku. Sekarang, kata beliau, kita bisa membaca buku apa saja karena selain versi cetak, buku juga sudah merambah ke bentuk digital sehingga distribusinya lebih mudah lagi.

Tapi, ada satu hal yang membuat beliau khawatir. Kemudahan akses informasi juga memberikan dampak yang buruk. Saking mudahnya akses, orang-orang kadang tidak ingin susah payah. Contoh konkretnya adalah kasus kopas atau PLAGIARISME yang bukan hanya terjadi dalam pembuatan artikel atau sekadar status, bahkan terjadi pada pembuatan tesis dan disertasi.  

Menurut Bu Yohanna lagi, meski internet sudah memberikan banyak informasi, jangan lupa untuk membaca buku karena ada banyak sekali pengetahuan yang tidak bisa didapat dari artikel online, ada di buku. 

---

Aksa, peserta termuda :D
Suasana talkshow, abaikan anak lelaki berkemeja putih yang nongkrong di depan itu

Penyerahan hadiah kepada para penanya

Selain talkshow, tanya jawab, dan sambutan, acara juga diisi dengan doorprize, tarian persembahan dari adik-adik SMU Muhammadiyah, dan ditutup dengan makan siang. Oh iya, ada satu lagi yang saya soroti dari acara ini, pesertanya beragam: siswi, mahasiswi, dan mamah-mamah blogger. IMHO, ini komposisi peserta yang tepat. Mengapa? Karena memberikan edukasi kepada audiens dari berbagai rentang usia. 

Ya, memang, sih. Ada yang mengatakan bahwa generasi milenial adalah mereka generasi Y yang lahir di rentang tahun 1980-2000. Tapi menurut saya ini rentang yang terlalu panjang. Nah, dengan kombinasi para peserta itu tadi, cakupan informasi yang disampaikan jadi lebih merata. Adik-adik yang masih sekolah bisa mempersiapkan diri untuk bekal ketika mereka terjun ke masyarakat nanti. Sedangkan untuk kita, para mamah-mamah, edukasi tentang teknologi informasi adalah bekal untuk mendidik anak-anak sekaligus mendidik diri kita sendiri.

Jadi, apa sih, yang bisa kita dapatkan dari acara-acara bertajuk literasi dunia digital semacam ini? Pertama, hari ini, internet sudah menjadi kebutuhan primer. Kita tidak bisa menutup mata terhadap ekspansi dunia digital. Siap tak siap, dunia seperti inilah yang tengah kita hadapi. Kedua, literasi digital bermanfaat untuk menyebarkan informasi dengan lebih efektif dan efisien.

Ketiga, tulisan adalah "rekaman" kebudayaan dan peradaban. Apa yang kita tulis hari ini, informasi apa pun yang kita sebarkan di internet, akan berpengaruh terhadap generasi berikutnya, termasuk anak-anak kita nanti.  

Keempat, internet adalah pisau bermata dua. Baik atau buruk dampaknya, tergantung kepada kita: para pengguna.

Salam,
~eL

1 comment

  1. Di dunia digital seperti sekarang ini sudah pasti internet menjadi portal penting dan masyarakat memang sudah "candu" baik digunakan untuk bersosial-media ataupun sebagai media untuk menghasilkan penghasilan. Betul banget, Teh, internet itu seperti pisau bermata dua; ada baik dan buruknya juga.

    Acara talkshow seperti ini memang berguna dan bisa menambah wawasan seputar teknologi informasi. Yuk, maju bersama Serempak. :*

    ReplyDelete

Weekly Newsletter